Tata ruang bangunan juga dirancang untuk mendukung pergerakan penumpang, kendaraan, serta perpindahan antarmoda di kawasan bandara. Pembangunan dilakukan dengan material utama seperti besi dan beton, di mana pasokan besi berasal dari Surabaya dan beton dari wilayah sekitar Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Pembangunan fasilitas di kawasan bandara memiliki tantangan tersendiri karena konstruksi berlangsung di tengah aktivitas operasional yang tetap berjalan. Dalam pengerjaan proyek, Hutama Karya menggunakan Building Information Modelling (BIM) 5D, termasuk untuk menghitung kebutuhan material utama.

"Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan pengendalian pekerjaan yang baik, mulai dari pelaksanaan konstruksi hingga aspek keselamatan dan keamanan. Hutama Karya menerapkan prinsip _Quality, Health, Safety, Security, and Environment_ (QHSSE) untuk menjaga kualitas pekerjaan sekaligus memastikan proses konstruksi berlangsung secara aman dan tertib," ujar Pj. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Hamdani dalam keterangan tertulis Sabtu (26/9/2026).