"Equity-nya negatif, ada unsustain loan Rp 4,7 triliun. Jadi teman-teman bisa bayangin semua dirapikan. INKA itu juga punya problem keuangan. Nah karena itu kita harus benahi. Supaya nanti kedepannya INKA ini bisa menjadi industri transportasi publik kita," pungkasnya.
Dalam catatan NadiKabar, KAI dan INKA telah melakukan kick off merger kedua perusahaan pada Selasa, 21 Juli 2026, lalu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim Project Management Office atau PMO, konsultan, serta jajaran pimpinan kedua perusahaan.
Sebelumnya Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin juga sudah memastikan bahwa proses merger kedua BUMN rampung tahun ini. Ia menyebut merger ini merupakan arahan langsung dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
"Oh iya itu arahan Danantara. Iya, pokoknya (rampung) tahun ini," ujar Bobby saat ditemui usai rapat dengan Komisi VI di DPR RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Dalam kesempatan itu dirinya juga menegaskan kembali jika setelah merger, KAI akan berperan sebagai holding atau perusahaan induk. Sementara INKA menjadi sub holding. "Holding, kita holding. INKA jadi sub holding," tuturnya.