Sementara itu, BPK dapat mengkaji ritual tersebut dari perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari produk kebudayaan masyarakat setempat.

"Di Manggarai, kami menemukan bahwa masih banyak naskah atau manuskrip yang belum teridentifikasi dan terdokumentasi dengan baik, bahkan sebagian belum terkonservasi secara layak. Kondisi seperti ini kemungkinan juga ditemukan di daerah lain di NTT," ujarnya.

Ralph mengatakan upaya pelindungan bahasa juga masih membutuhkan perhatian karena pemetaan bahasa di NTT telah berlangsung sejak sekitar 2007–2008 dan hingga kini belum sepenuhnya selesai.

Ia menambahkan data bahasa bersifat dinamis sehingga jumlah dan variasinya dapat berubah seiring perkembangan masyarakat. Karena itu, diperlukan kerja sama antarlembaga untuk memperluas pendataan dan pelindungan bahasa daerah.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan NTT Haris Budiharto mengatakan kolaborasi kedua lembaga dapat diarahkan pada pengkajian unsur-unsur objek pemajuan kebudayaan yang memiliki keterkaitan dengan bahasa dan sastra.