"Balai Bahasa memiliki keahlian yang lebih spesifik di bidang bahasa, sedangkan payung besarnya adalah kebudayaan. Karena itu, ada banyak persinggungan yang bisa kita kerjakan bersama di lapangan," katanya.
Ia mencontohkan pengkajian ritual adat, tarian, dan berbagai ekspresi budaya masyarakat yang tidak hanya mengandung nilai tradisi, tetapi juga unsur bahasa, baik melalui tuturan maupun ekspresi lainnya.
Menurut Haris, kedua lembaga perlu lebih sering melakukan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) untuk mengidentifikasi potensi kerja sama dan menyusun kegiatan bersama.
Berdasarkan hasil identifikasi BPK NTT, terdapat sejumlah tradisi lisan di daerah itu, antara lain Aksara Lota di Ende, Tutur Adat Takanab (Natoni Takanab) masyarakat Atoin Meto di Timor Tengah Utara (TTU), Sastra Lisan Kafoa di Pulau Alor, Syair Adat pada Upacara Pernikahan di Desa Wairbleler, Kabupaten Sikka, serta Tuturan Su’i Uwi pada Upacara Reba di Kabupaten Ngada.
Haris berharap kolaborasi tersebut dapat mempercepat upaya pemajuan kebudayaan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama melalui pengembangan potensi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan berbasis kebudayaan.