"Investasi triliunan rupiah harus menghasilkan pekerjaan yang layak, upah yang baik, dan kesempatan usaha bagi masyarakat. Jangan sampai daerah kaya sumber daya alam terus menjadi pemasok bahan mentah, sementara nilai tambah dan kesejahteraan justru lebih banyak dinikmati di tempat lain," kata Bamsoet.

Bamsoet juga memaparkan, kemajuan sektor pangan dan energi juga menjadi langkah penting memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan luas panen sekitar 11,32 juta hektare atau naik 12,69 persen.

Penyederhanaan distribusi pupuk dan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen menjadi kebijakan yang dapat membantu menekan biaya produksi petani. Ke depan, peningkatan produksi harus diikuti perbaikan irigasi, modernisasi pertanian, penguatan cadangan pangan, serta jaminan harga yang menguntungkan petani sekaligus terjangkau konsumen.

Di sektor energi, arah kebijakan biodiesel B50 dan pengurangan ketergantungan impor solar, dengan potensi penghematan devisa sekitar Rp170 triliun, perlu diikuti kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur pengolahan, serta pengawasan dampak lingkungan. Penghematan devisa tersebut dapat memperbesar ruang untuk memperkuat industri energi domestik dan mempercepat pengembangan energi terbarukan.

"Kedaulatan pangan harus membuat petani semakin sejahtera dan harga kebutuhan pokok semakin terjangkau. Begitu pula kedaulatan energi, harus mampu mengurangi impor, memperkuat industri nasional, dan menjaga harga energi tetap bersahabat bagi rakyat," jelas Bamsoet.

Lebih lanjut, Bamsoet juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pembangunan kualitas manusia melalui perluasan program kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan gizi. Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar 57 juta penerima manfaat melalui 27.486 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).