Sementara itu, perdagangan barang dan jasa Indonesia-Amerika Serikat pada 2025 mencapai sekitar US$50,7 miliar. Angka tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hubungan dengan kedua kekuatan ekonomi tersebut secara seimbang sekaligus memperkuat diversifikasi pasar.
"Masalahnya bukan dengan siapa kita berdagang, tetapi apakah hubungan perdagangan tersebut memperkuat industri nasional atau justru menciptakan ketergantungan. Setiap kerja sama investasi harus menghasilkan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendorong transfer teknologi," kata Bamsoet.
Selanjutnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, keanggotaan penuh Indonesia di BRICS sejak Januari 2025 harus dimanfaatkan sebagai tambahan ruang diplomasi dan ekonomi. BRICS bukan pakta pertahanan dan beranggotakan negara-negara dengan kepentingan yang beragam.
Indonesia, lanjut Bamsoet, dapat memanfaatkannya untuk memperluas perdagangan, pembiayaan pembangunan, kerja sama pangan, energi, teknologi dan kepentingan Global South, sembari tetap memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, Timur Tengah dan mitra lainnya.