NADIKABAR.COM — Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan dosen pascasarjana Universitas Pertahanan, Universitas Borobudur dan Universitas Jayabaya, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan Indonesia harus menjaga politik luar negeri bebas aktif di tengah semakin tajamnya persaingan Amerika Serikat dan China serta menguatnya BRICS.

Ia menjelaskan persaingan global kini berlangsung melalui perdagangan, investasi, teknologi, energi, pangan, rantai pasok hingga pertahanan. Dengan posisi geografis di antara Samudra Hindia dan Pasifik, Indonesia harus mampu mengubah posisi strategis tersebut menjadi daya tawar dan kekuatan nasional.

"Indonesia tidak perlu memilih Timur atau Barat. Indonesia harus tetap bebas aktif. Kita dapat bekerja sama dengan Amerika Serikat tanpa menjadi perpanjangan tangan Amerika Serikat, bekerja sama dengan China tanpa kehilangan kewaspadaan dan kedaulatan, serta aktif di BRICS tanpa menutup pintu kepada mitra lainnya. Bebas aktif adalah keberanian untuk berpikir dengan kepala sendiri, berbicara dengan suara sendiri, dan bertindak berdasarkan kepentingan nasional," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).

Hal tersebut ia katakan saat memberikan kuliah Pascasarjana (S2) Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan (Unhan) secara daring di Jakarta, Jumat (2/10).

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menilai, hubungan ekonomi dengan China dan Amerika Serikat sama-sama strategis. Data Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2025 ekspor Indonesia ke China sekitar US67,04 miliar,sedangkan import mencapai sekitar US87,54 miliar sehingga terjadi defisit sekitar US$20,50 miliar.