Penambahan sekitar 2,82 juta pekerja dalam periode tersebut menunjukkan peran industri manufaktur dalam memperluas kesempatan kerja.
Pada Februari 2026, sektor ini menyerap 13,57% dari total 147,67 juta penduduk bekerja. Tren positif tersebut juga tercermin dalam survei PMI September 2026, yang mencatat penambahan tenaga kerja pabrik dengan laju tercepat sejak Februari 2025.
AGK menegaskan sektor manufaktur tetap sebagai penyerap utama tenaga kerja.
"Peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur disebabkan oleh utilisasi dan investasi yang terus meningkat," ujarnya.
Investasi dan Posisi Manufaktur Indonesia
Menurut BPS, investasi di industri manufaktur terus meningkat dari Rp259 triliun pada 2020 menjadi Rp307 triliun pada 2021, Rp457 triliun pada 2022, Rp565 triliun pada 2023, dan Rp697 triliun pada 2024.
Sementara itu, Kemenperin mencatat realisasi investasi baru di sektor manufaktur mencapai Rp1.002 triliun selama periode 2024-2026. Realisasi tersebut didukung oleh pembangunan hampir 3.500 fasilitas produksi baru.
Tren peningkatan investasi ini menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil selama 7 tahun kepemimpinan Agus Gumiwang di Kemenperin (2020-2026) efektif dalam menarik investasi di industri manufaktur.
Di tingkat global, nilai tambah manufaktur (MVA) Indonesia meningkat dari US$210,4 miliar pada 2020 menjadi US$265,07 miliar pada 2025.
Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia sekaligus posisi teratas di ASEAN, melampaui Thailand dengan US$128,04 miliar dan Vietnam dengan US$116,38 miliar.
Capaian tersebut membuktikan AGK berhasil meningkatkan nilai tambah ekonomi dari ekosistem rantai pasok industri manufaktur Indonesia lebih besar daripada gabungan Thailand dan Vietnam.
Kontribusi terhadap Ekonomi Nasional
Pada 2025, industri manufaktur tumbuh 5,15%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Ini kali pertama dalam 13 tahun industri manufaktur tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Capaian tersebut menunjukkan pengaruh industri manufaktur yang meningkat sangat signifikan dalam perekonomian nasional. AGK kerap menegaskan arah yang ingin dicapai.
"Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi," ujarnya dalam paparan kinerja akhir tahun 2025.
Nilai nominal PDB industri manufaktur terus meningkat sepanjang 2020-2025, dari Rp2.761 triliun pada 2020 menjadi Rp2.947 triliun pada 2021, Rp3.228 triliun pada 2022, Rp3.499 triliun pada 2023, Rp3.799 triliun pada 2024, dan Rp4.117 triliun pada 2025. Tambahan nilai nominal tahunannya cenderung membesar, dengan kenaikan tertinggi sebesar Rp318 triliun pada 2025.
Dalam lima tahun, industri manufaktur menambah lebih dari Rp1.350 triliun nilai ekonomi nominal. Capaian ini mencerminkan semakin besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan sektor ini dalam pembentukan PDB nasional sekaligus mempertegas skala dan perannya dalam perekonomian Indonesia.
Di samping itu, sumbangan industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada periode 2021-2025 konsisten di kisaran 18-20% dengan puncaknya di 20,94% pada tahun 2025.
Hal ini berarti sekitar seperlima pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 bersumber dari industri manufaktur, sekaligus menegaskan peran industri manufaktur sebagai salah satu motor utama ekonomi Indonesia.
Industri manufaktur menjadi tulang punggung ekspor Indonesia dengan menyumbang 80,27% dari total ekspor nasional pada 2025. Rata-rata ekspor industri manufaktur pada periode 2020-2025 mencapai 76% dari total ekspor nasional.
Tiga porsi ekspor terbesar disumbangkan oleh berbagai macam produk turunan CPO, besi dan baja, dan mesin dan perlengkapan elektrik. Ini mempertegas peran industri manufaktur dalam menopang perdagangan luar negeri dan menghasilkan devisa bagi perekonomian nasional.