Mengukur Optimisme Pelaku Industri Berbasis Data
Kepercayaan pelaku industri menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah perkembangan manufaktur.
Sebelum hadirnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada November 2022, Purchasing Managers' Index (PMI) dari S&P Global menjadi salah satu acuan untuk memantau kondisi tersebut. Namun, Kemenperin menilai diperlukan instrumen yang dapat memberikan gambaran lebih terperinci mengenai setiap subsektor.
Atas prakarsa AGK, IKI kemudian dikembangkan untuk memantau kondisi 23 subsektor manufaktur Indonesia. Industri yang beragam membutuhkan pembacaan yang terperinci agar setiap tekanan mendapat respons yang tepat.
IKI disusun berdasarkan laporan sekitar 3.000 perusahaan melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang mencakup industri berskala kecil, menengah, hingga besar.
Metodologinya dirumuskan oleh pakar statistik IPB dan divalidasi oleh ekonom Universitas Indonesia. Dirilis setiap akhir bulan berjalan, lebih awal daripada PMI, IKI membantu pemerintah mengenali perubahan pesanan, produksi, dan persediaan pada masing-masing subsektor.
Informasi tersebut menjadi dasar untuk mendeteksi tekanan sejak dini dan menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Bersama PMI S&P Global dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia, IKI melengkapi gambaran kondisi industri nasional. Semakin dini tekanan terbaca, semakin cepat pemerintah dapat menyiapkan langkah penanganan.
Sejak November 2022, IKI secara konsisten bertahan di zona ekspansi, yakni di atas level 50, dan mencapai rekor 54,12 pada Januari 2026.
Pada September 2026, indeks ini tetap ekspansif di level 51,93. Komponen pesanan meningkat menjadi 53,40, sedangkan 15 dari 23 subsektor yang dipantau berada dalam fase ekspansi. Capaian tersebut menunjukkan kepercayaan pelaku industri tetap terjaga, meskipun kondisi antarsubsektor belum sepenuhnya merata.
Sinyal penguatan juga terlihat pada PMI manufaktur Indonesia yang meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, sekaligus kembali memasuki zona ekspansi.
Pesanan baru dan produksi domestik mencatat pertumbuhan tercepat sejak Februari, sedangkan pesanan ekspor meningkat dengan laju paling kuat sejak Mei 2022.
Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Trevor Balchin, menyebut kinerja September didukung oleh kenaikan ekspor dan merupakan yang terkuat sejak Februari.
Ketika kepercayaan terjaga dan pesanan meningkat, industri memiliki pijakan lebih kuat untuk melanjutkan pertumbuhan.
Pemulihan sejak 2020 membawa manufaktur kembali menjadi sumber pertumbuhan terbesar. Kebijakan menjaga operasional pabrik, memulihkan permintaan, dan memantau kondisi industri menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Rangkaian capaian ini memperlihatkan besarnya peran manufaktur dalam menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kegiatan produksi dan penghidupan jutaan pekerja.
Keberlanjutan investasi, permintaan, dan respons kebijakan akan menentukan kemampuan manufaktur mempertahankan perannya sebagai penggerak pertumbuhan sekaligus memperluas kesempatan kerja.
Menurut ekonom INDEF, Esther Sri Astuti, Indonesia terbilang berhasil menyelamatkan kinerja industri manufaktur.
"Meski belum sepenuhnya pulih, tergambar dari PMI yang mayoritas bertahan di zona ekspansif pascapandemi," ujarnya.
Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menyebut industri manufaktur menyumbang 82% ekspor nasional.
"Manufaktur memang merupakan tulang punggung ekspor nasional," pungkas Shinta, menanggapi soal porsi ekspor manufaktur 82%.