NADIKABAR.COM — Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman, Kamis (24/9), mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan "tegas dan efektif" guna menyelesaikan krisis Rohingya yang berkepanjangan.
Dia juga menyerukan keadilan iklim yang lebih besar, serta memaparkan rencana pemerintahannya untuk membangun kembali negara tersebut pascakebangkitan massa pada 2024.
Di hadapan Majelis Umum PBB di New York, Rahman menyatakan bahwa Bangladesh telah menampung lebih dari 1,2 juta pengungsi Rohingya yang terusir secara paksa selama lebih dari sembilan tahun, yang memberikan tekanan terhadap sumber daya, lingkungan, keamanan, serta masyarakat setempat di negara itu.
"Akar dan sumber krisis Rohingya berada di Myanmar. Oleh karena itu, penyelesaiannya pun terletak di sana," ujarnya dalam pidato perdananya di Majelis Umum PBB.
Rahman menegaskan bahwa pemulangan warga Rohingya secara aman ke tanah air mereka di Myanmar merupakan "satu-satunya solusi" bagi krisis tersebut.
Dia menyerukan kepada PBB dan masyarakat internasional untuk terus memberikan bantuan penyelamatan jiwa bagi para pengungsi hingga proses repatriasi terlaksana, serta memperingatkan bahwa kegagalan dalam menjamin keadilan bagi mereka dapat memicu krisis kemanusiaan.
Dia juga menegaskan kembali dukungan Bangladesh terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan memiliki negara yang merdeka, sembari menyerukan agar konflik di seluruh dunia diselesaikan melalui dialog dan diplomasi.
Rahman mengatakan bahwa Bangladesh sedang melakukan pembangunan kembali setelah lebih dari 15 tahun berada di bawah "pemerintahan fasis," menyusul kebangkitan massa pada 2024 dan pemilihan umum nasional pada 12 Februari.
Dia memberikan penghormatan kepada mereka yang tewas dan terluka dalam pergolakan Juli-Agustus 2024, yang dia gambarkan sebagai gerakan melawan "fasisme", serta kepada mereka yang telah mengorbankan nyawa dalam perjuangan sebelumnya demi demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia.
Rahman menyatakan bahwa pemerintahannya sedang menjalankan strategi "3-R", yaitu Pemulihan (Recovery), Restorasi (Restoration), dan Rekonstruksi (Reconstruction), seiring dengan langkah Bangladesh kembali ke jalur demokrasi.
Terkait perubahan iklim, dia menyebutkan bahwa Bangladesh tetap menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampaknya, meskipun kontribusi negara itu terhadap emisi karbon global tergolong kecil; dia pun menyerukan tindakan internasional yang lebih kuat terkait keadilan iklim, pendanaan, dan adaptasi.
Dia mengatakan pemerintahannya berencana menanam 250 juta pohon dalam kurun waktu lima tahun, memperluas penggunaan energi bersih dan tenaga surya, serta menggali saluran air sepanjang 20.000 kilometer untuk mengatasi banjir dan kekeringan.
Rahman juga menyerukan peningkatan transfer teknologi dan akses yang terjangkau terhadap teknologi baru bagi negara-negara berkembang, seraya memperingatkan agar kesenjangan digital saat ini tidak berubah menjadi "kesenjangan kecerdasan buatan" di masa depan.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia