Hendi yang merupakan pensiunan dosen Universitas Muria Kudus ini mengaku khawatir ikan sapu-sapu ini jika dibiarkan akan mengancam dan merusak Bendung Karet Sungai Juana.
"Dampaknya buat bendungan karet, dapat merusak bangunan fondasi, membuat lubang atau ngerong untuk sarang di tepi tanggul menyebabkan tanah jugruk bisa menyebabkan longsor, di samping karena predator dan invasif ikan sapu-sapu dapat merusak ekosistem perairan," ungkap dia.
Oleh karena itu, Hendi berharap agar ikan sapu-sapu tersebut segera dibersihkan.
"Mumpung airnya kering perlu adanya gerakan pembasmi ikan sapu-sapu," pungkasnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati, Hadi Santosa, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Juana memang menjadi sorotan para nelayan. Sebab populasi ikan invasif ini mengalami peningkatan sejak awal tahun 2026.
"Sebenarnya sejak awal tahun 2026 ini populasi ikan sapu-sapu meningkat tajam di Sungai Juana, dan ini mengganggu populasi ikan yang lain. Sehingga para nelayan mengeluh karena terlalu banyak ikan sapu-sapu yang sifatnya invasif memakan ikan lain," kata Hadi saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (4/9/2026).
Terkait dengan potensi bahaya ikan sapu-sapu terhadap ekosistem, Hadi mengatakan ikan itu akan mati sendiri setelah sungai mengering.
"Kalau sudah mati ya sudah, kalau kering nanti mati sendiri," ujar dia.
Hadi menambahkan, pihaknya akan memantau perkembangan populasi ikan sapu-sapu ini di Sungai Juana.
"Ikan ini alami, mudah adaptasi dengan lingkungan apapun, sehingga bisa hidup di Sungai Juana. Ke depan akan kita pantau, kalau ikan sapu-sapu sudah mati semoga ke depan tidak ada lagi ikan sapu-sapu," kata dia.