Salah seorang petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), Ahad, mengatakan sawah mulai terendam banjir sejak tanggul yang jebol di Desa Marlempang, airnya mencapai permukiman dan kawasan pertanian setempat.

"Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi," kata Sugiono.

Sebagai informasi, banjir akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang telah menyebabkan areal persawahan di Desa Teluk Halban terendam saat padi memasuki masa panen.

Sugiono mengatakan, petani baru dapat memulai panen secara bertahap pada hari kesembilan, tetapi, kondisi tanaman yang terlalu lama terendam menyebabkan batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran.

Untuk menyelamatkan hasil panen yang tersisa, petani menggunakan perahu karet atau perahu berbahan terpal saat memotong padi untuk dibawa ke darat. Cara tersebut ditempuh karena alat panen (mesin combine) tidak dapat beroperasi di tengah genangan banjir.

Sugiono menuturkan, petani juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja karena kondisi sawah yang berat, air berbau, serta menimbulkan rasa gatal.

Keterbatasan alat panen dan sulitnya mencari tenaga kerja membuat proses panen membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.

Sebelumnya, biaya panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Namun, dalam kondisi saat ini, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen.

"Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya," ujarnya.

Menurut Koordinator Kecamatan (Korcam) Kelompok Tani Merdeka ini, areal persawahan yang terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare, dan jumlah petani lebih dari 100 orang.