Sebelum padi terendam banjir, Sugiono mengaku telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan ketersediaan alat panen sebelum banjir mencapai persawahan.

Petani juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, tetapi derasnya aliran air tidak mampu dibendung.

Sementara itu, Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak mengatakan genangan air mulai surut, tetapi sebagian besar persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal.

Ia menyebutkan, luas areal persawahan produktif di Desa Teluk Halban mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali setahun. Sekitar 70 persen areal persawahan terdampak banjir ketika tanaman padi hampir memasuki masa panen.

Menurut dia, sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat Desa Teluk Halban.

Selain sawah milik masyarakat, banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian (PMAAS) seluas sekitar satu hektare yang sebelumnya telah ditanami pada Juli lalu. Lahan tersebut belum dapat dipanen meskipun tanaman padi sudah menguning.

"Percepatan penanganan tanggul sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir terjadi menjelang masa panen," ujarnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (Distanakbun) Aceh Tamiang, Irwan Hadi membenarkan dampak tanggul jebol berimbas terhadap ratusan hektare sawah di wilayah pesisir Aceh Tamiang.

"Iya, banyak sawah yang terimbas banjir. Tapi kami belum dapat update infonya berapa hektare. Ini sedang tunggu data masuk," demikian Irwan Hadi.