Alhasil, kondisi ini membuat dua orang yang sama-sama memiliki gelar sarjana belum tentu memiliki peluang kerja yang setara. Selain ijazah, seseorang bisa memiliki kapital yang lebih banyak dalam bentuk jaringan, pengalaman, dan dukungan ekonomi keluarga.

"Jadi persoalannya bukan sekadar siapa yang kompeten, tetapi siapa yang memiliki kapital untuk masuk dan bertahan di pasar kerja," ujarnya.

Radius melanjutkan jika ketimpangan kapital membuat setiap lulusan memiliki perjalanan karier yang berbeda. Seseorang yang memiliki dukungan lebih dengan yang hanya modal ijazah tidak memulai dari garis yang sama.

"Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilege menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran," pungkasnya.