"Model pengentasan kemiskinan ini tidak bisa kita uji di banyak tempat secara bersamaan, harus fokus di lokasi tertentu. Oleh karena itu, kami memilih Banyuwangi sebagai model percontohan harapannya kesuksesan Perlinsos terulang lagi di sini," ujarnya.

Salah satu program yang akan dikembangkan yakni PPSE. Program ini mencakup pemberdayaan aspek sosial dan ekonomi melalui pendekatan individu maupun kelompok. Pemberdayaan dilakukan dengan penguatan kemampuan, kepemilikan aset, dan akses untuk meningkatkan kesejahteraan KPM.

"Sasaran programnya mencakup KPM penerima PKH, Sembako, dan ATENSI, serta orang tua siswa Sekolah Rakyat (SR). Prioritas diberikan kepada masyarakat yang masuk Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) desil 1-4, berusia 19-64 tahun, serta telah menjadi penerima PKH dan/atau Sembako minimal selama satu tahun," ujar Andy.

KPM yang telah memiliki rintisan usaha akan mendapat prioritas karena program tersebut diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi yang sudah berjalan. Program juga dapat diberikan kepada masyarakat yang mengalami risiko sosial sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Andy menjelaskan, berdasarkan pemetaan ekosistem kemiskinan di Banyuwangi, terdapat dua aspek utama yang berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan, yakni sektoral dan manajerial.

Dari sisi sektoral, pemberdayaan di bidang pertanian serta penciptaan lapangan kerja formal menjadi faktor penting. Menurut Andy, bansos tetap diperlukan bagi masyarakat rentan, tetapi pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan membutuhkan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat.