"Oleh karena itu, strategi pemberdayaan masyarakat dan kemudahan investasi jauh lebih signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan," tambah Andy.

Sementara dari sisi manajerial, ketepatan data menjadi faktor krusial. Banyuwangi dinilai telah memiliki pengalaman dalam menggunakan data untuk penanganan kemiskinan.

"Ketepatan data menjadi faktor dominan. Penguatan intervensi berbasis data, seperti integrasi dengan sistem UGD Kemiskinan Banyuwangi, signifikan menurunkan angka kemiskinan," sambungnya.

Untuk menyusun model tersebut, Kemensos telah menerjunkan tim dari Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat. Tim tersebut bertugas melakukan pemetaan sekaligus menyusun model pengentasan kemiskinan berbasis riset komprehensif di Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan, siap menindaklanjuti rekomendasi teknis dari Kemensos. Saat ini, angka kemiskinan di Banyuwangi tercatat 6,13 persen.

"Ini menjadi PR bagi Banyuwangi atas kepercayaan dari pusat. Kami yakin program ini akan bermanfaat bagi warga, tidak hanya bansos namun juga ada penguatan dan peningkatan kapasitas ekonomi rakyat," kata Ipuk.