Kembali membahas soal "mother of all bombs" buatan AS, Naqdi mengungkapkan bahwa bom seberat 14 ton itu pernah dijatuhkan di Iran selama perang 12 hari melawan Israel tahun 2025 lalu. Dia mengklaim beberapa bom jenis itu gagal meledak dan kemudian disita oleh pasukan Iran.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, dalam pernyataan terpisah mengecam sebut "mother" atau "ibu" oleh AS untuk menyebut bom terberat buatan mereka.
Dalam pernyataan yang tampaknya dimaksudkan untuk menyindir AS, Mohebbi mengatakan bahwa hanya "peradaban barbar" yang menggunakan istilah sakral semacam itu untuk sebuah senjata.
Mohebbi, dalam pernyataan pada Sabtu (17/10), mengatakan bahwa masa depan adalah milik bangsa yang mampu mengubah ancaman "terbesar" dari musuh menjadi bahan lelucon publik.Potensi penggunaan bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS itu menandai eskalasi signifikan dalam konflik antara Teheran dan Washington.
Namun, sejumlah pejabat yang mengetahui diskusi perencanaan militer mengungkapkan adanya keraguan apakah senjata itu benar-benar dapat membantu mencapai tujuan strategis AS.