NADIKABAR.COM — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut inflasi pangan Oktober melandai seiring pemerintah memperkuat intervensi melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM) serta distribusi pangan guna menjaga stabilitas beras nasional.

"Pangan kita kuat. Apalagi stok beras tertinggi sepanjang sejarah. Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, salurkan stok untuk kepentingan masyarakat melalui SPHP, bantuan pangan, dan sebagainya," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Bapanas menyatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) perkembangan inflasi umum secara nasional, baik dilihat secara tahunan maupun bulanan, sama-sama mengalami penurunan.

Pada inflasi umum secara bulanan sampai Oktober berada di 0,22 persen. Angka itu lebih rendah atau bergerak melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 0,33 persen.

"Satu hal yang menarik yaitu komoditas beras dilaporkan BPS tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi pada komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan," ujarnya.

Inflasi pangan secara bulanan sendiri pada Oktober juga melandai di 0,77 persen setelah bulan September berada di angka 1,46 persen. BPS juga menyampaikan tingkat inflasi beras secara bulanan sampai Oktober nyaris nihil di level 0,08 persen.

Angka itu menurun drastis dibandingkan inflasi beras pada bulan September di 0,80 persen yang merupakan tingkat inflasi beras tertinggi pada tahun 2026.