NADIKABAR.COM — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai dilaksanakan secara terukur untuk menjaga stabilitas harga serta melindungi keberlanjutan usaha perajin tahu dan tempe di tengah dinamika pasar.
"SPHP kedelai bukan subsidi yang diberikan secara otomatis setiap saat. Pelaksanaannya dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan harga, kondisi pasokan, serta ketentuan yang berlaku," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Bapanas menilai perkembangan harga kedelai asal impor terpantau masih berada dalam kondisi yang stabil karena belum melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat perajin tahu dan tempe.
Menurut Bapanas berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), rata-rata harga kedelai impor di regional Pulau Jawa pada pekan pertama Oktober 2026 berada di kisaran Rp11.573 per kilogram (kg).
"Harga kedelai secara umum masih relatif terkendali, terutama di wilayah Jawa sebagai salah satu sentra utama perajin tahu dan tempe. Yang paling penting, pemerintah tidak tinggal diam atau hanya menunggu harga kedelai di perajin naik," ujarnya.
Mengutip data harga kedelai Gakoptindo pada pekan pertama 7 Oktober, untuk regional Pulau Jawa rata-rata harga kedelai impor yang hampir mendekati HAP, ada di Banten dengan Rp11.900 per kg.
Sementara di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan D.I. Yogyakarta rata-rata harga tertinggi di Rp11.850 per kg. Namun masih ada kedelai dengan harga rendah di Rp11.300 per kg.