NADIKABAR.COM β Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menggencarkan crowd action atau gerakan kolektif tingkat lokal melalui SDG Certified Leadership Program guna mempercepat pencapaian target pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs).
βLewat program yang berjalan ini, kita harapkan 50 leaders ini bisa mendorong berbagai capaian di tingkat lokal, yang kita sebut sebagai crowd action, kecil tapi banyak dan akan bermanfaat di tingkat yang lebih tinggi yaitu di kabupaten, provinsi, bahkan di tingkat nasional,β kata Manager Pilar Lingkungan Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Rachman Kurniawan di Malang, Jawa Timur, Sabtu.
Rachman menilai upaya percepatan SDGs di lapangan menghadapi sejumlah tantangan klasik, mulai dari keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM), kemampuan keuangan, hingga keterbatasan waktu.
Namun begitu, percepatan pembangunan berkelanjutan ini diyakini dapat dicapai melalui kolaborasi dan gotong royong yang digerakkan para pemimpin di tingkat lokal.
βSDG Certified Leadership Program ini diharapkan mencetak unggulan-unggulan leader atau pemimpin yang bisa mendorong pelaksanaan SDGs di tingkat lapang di berbagai daerah di Indonesia,β kata Rachman.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga sebagai living laboratory untuk mempertemukan para pihak agar berkolaborasi, baik dalam hal pendanaan, aksi nyata, maupun pemikiran, guna melengkapi program-program besar skala nasional.
βKarena itu tidak bisa kita capai dengan kegiatan-kegiatan yang masif, besar, tapi di tataran nasional. Justru kita ingin melengkapinya dengan kegiatan-kegiatan yang kelihatannya kecil, tapi ketika diagregasikan menjadi sesuatu yang bermanfaat,β kata Rachman.
Adapun program leadership ini meliputi lokakarya, diskusi, penugasan, mentoring, hingga pengembangan Capstone Project. Pada tahun ini, program ini menerima 947 pendaftar dari 631 institusi atau organisasi di 32 provinsi yang kemudian diseleksi menjadi 50 peserta.
Rachman menjelaskan, para peserta telah dibekali peningkatan kapasitas secara teori dan praktik kelas pada lokakarya tahap pertama dan kedua. Sementara itu, Capstone Project menjadi bagian dari lokakarya tahap ketiga sebagai bentuk implementasi langsung di lapangan.
Nantinya, setelah para peserta menyelesaikan Capstone Project, Bappenas akan memublikasikan dan mendiseminasikan hasil proyek tersebut sebagai bentuk praktik baik (best practice) dalam sebuah kolokium, sebelum memberikan sertifikat kelulusan bagi para peserta.
Bappenas juga mendorong agar para peserta tidak berhenti pada tahap akhir program saja, melainkan terus berkembang secara berkelanjutan.
Guna memfasilitasi potensi keberlanjutan tersebut, Rachman mengatakan pihaknya tengah menyiapkan wadah jejaring (networking) bagi para alumni. Melalui jejaring ini, para alumni diharapkan dapat tergerak untuk melakukan replikasi hingga upscaling program secara bergotong royong.
βTetapi tentu sebelum berjalan itu, Bappenas akan tetap memfasilitasi, mengadvokasi sampai bisa berjalan, bahkan meng-endorse berbagai programnya, sehingga ke depan crowd action ini menjadi bagian dari percepatan pencapaian SDGs itu sendiri,β kata Rachman.