Menurut Rahmat, pengembangan blue food di Danau Toba juga perlu memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.

Hal tersebut penting karena Danau Toba tidak hanya dimanfaatkan untuk perikanan, tetapi juga pariwisata, peternakan, transportasi, sumber air, dan kegiatan ekonomi lainnya.

"Ini tentunya sustainability itu harus saling seimbang satu sama lain. Dan kami selalu menekankan kepada semua pihak bahwa prinsip itu harus diterapkan di pengolahan Danau Toba ini karena ini merupakan kondisi yang sangat lengkap dan banyak sektor terkait di sini tidak hanya perikanan ya, ada pariwisata, ada juga peternakan, ada juga hutannya di daratan," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Adypurnama mengatakan pengembangan blue food merupakan bagian dari transformasi sistem pangan yang tengah dilakukan pemerintah.

"Ini sebenarnya menandakan bahwa tujuan kita mencapai swasembada pangan itu harus juga disertai dengan semua strategi yang memastikan produksi kita dalam pangan ini low emission, low water consumption dan lebih dapat mendukung dari keberlanjutan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan," ujar Leonardo.