"Kita berharap Novonesis bisa berinvestasi di Indonesia," kata Dadang.
Menurut Dadang, pengembangan biosolusi juga perlu diikuti penguatan lembaga riset dan kolaborasi dengan sektor swasta. Dengan demikian, hasil penelitian dapat diterima industri dan dikembangkan menjadi produk yang siap dipasarkan.
Country Manager Novonesis Indonesia Ang Yonny Setiadi mengatakan peluncuran laporan tersebut merupakan awal dari kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.
"Novonesis ini akan berkolaborasi dengan pemerintah, dengan kementerian, dengan universitas, dengan green research and development yang ada di Indonesia," ujarnya.
Ia juga mengatakan pengembangan tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan produk samping untuk pakan ternak ayam serta produksi etanol.
Selain itu, Dadang juga menjelaskan bioekonomi merupakan bagian dari upaya mencapai pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya alam hayati. Adapun biosolusi dapat mendukung peningkatan produktivitas, kualitas, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Ia mengatakan peningkatan produktivitas diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan perluasan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan dan penciptaan nilai tambah menjadi bagian penting dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Dadang juga menyebut laporan ekonomi yang disampaikan dalam acara tersebut menunjukkan potensi peningkatan PDB hingga tiga kali lipat apabila Indonesia dapat mengembangkan biosolusi.