Menurut Febrian, kenaikan muka air laut bukan semata persoalan lingkungan, melainkan persoalan pembangunan yang menyangkut kehidupan masyarakat, keberlanjutan wilayah, dan masa depan generasi mendatang.
Sebagai provinsi kepulauan, Maluku disebut menghadapi tantangan yang kompleks. Data sistem perencanaan kolaboratif dan analisis data terpadu (SEPAKAT) menunjukkan pada proyeksi kenaikan muka air laut setinggi 100 sentimeter sebanyak 18 fasilitas kesehatan dan 53 sekolah berpotensi terdampak kenaikan muka air laut.
Selain itu, sekitar 40 ribu penduduk serta lebih dari 33 ribu hektare wilayah juga berada dalam kawasan terdampak.