NADIKABAR.COM — Badan Karantina Indonesia (Barantin) membuat gerakan 1.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai langkah untuk menyiapkan mereka supaya naik kelas dan bisa berkontribusi di pasar ekspor.
"Langkah ini mempertemukan pelaku usaha mikro, usaha kecil, pemerintah pusat, daerah guna menjembatani produk-produk unggulan daerah menembus pasar global," kata Kepala Barantin Abdul Kardi Karding dalam kegiatan Deklarasi Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan UMKM menuju Pasar Global di Palu, Sulteng, Senin.
Menurut dia potensi komoditas tidak cukup untuk membawa pelaku usaha menuju pasar internasional, produk yang akan diekspor harus mampu memenuhi berbagai persyaratan mulai dari aspek kesehatan, keamanan, ketertelusuran, hingga ketentuan teknis yang diberlakukan negara tujuan.
Maka Barantin sebagai lembaga negara yang ditugaskan mengurus kekarantinaan menjembatani pelaku usaha dengan Kementerian UMKM, Kementerian Desada Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), pemerintah provinsi serta kabupaten/kota berkolaborasi membantu masyarakat meningkat kualitas produk usaha di berbagai sektor.
Setelah deklarasi, Barantin mengambil langkah tindak lanjut penguatan kelembagaan maupun produk melalui klinik ekspor.
"Klinik ekspor dimaksudkan untuk mengarahkan atau melatih pelaku usaha memenuhi standar karantina maupun standar ekspor negara tujuan. Lalu, Kementerian UMKM mengambil peran dari sisi manajemen, pemberdayaan hingga akses permodalan," ujarnya.
Ia mengemukakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi peran Barantin. Karantina tidak hanya menjalankan fungsi biosecurity di pintu masuk dan keluar, tetapi juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha untuk memenuhi persyaratan perdagangan.
"Kami mencoba membangun rantai ekspor sejak dari tingkat produksi," ucap Karding.
Ia mencontohkan komoditas hortikultura (durian beku) asal Sulawesi Tengah yang kini konsisten berada di pasar ekspor China.
Berdasarkan data Barantin hingga Agustus 2026, ekspor durian Sulawesi Tengah ke Negeri Tirai Bambu tercatat mencapai 8.377 ton dengan nilai Rp871 miliar.
"Kami ingin produk-produk Sulawesi Tengah lebih bervariasi masuk ke pasar global. Kami melihat daerah ini memiliki beragam potensi yang bisa di genjot ke pasar ekspor, baik dari komoditas ikan, hewan dan tumbuhan," kata dia menuturkan.