NADIKABAR.COM β Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyatakan akan membentuk klinik ekspor sebagai pusat konsultasi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk membantu memenuhi standar produk dan persyaratan ekspor.
Dalam kegiatan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global di Palu, Sulawesi Tengah, Senin, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan klinik tersebut disiapkan untuk membantu UMKM memahami tata cara ekspor dan standar produk yang berlaku di pasar internasional.
βInsyaallah kami akan membentuk klinik ekspor sebagai pusat konsultasi supaya UMKM mengetahui cara ekspor dan standar produk berskala internasional sehingga UMKM sukses memasarkan produk ke luar negeri,β ujarnya dikutip dari siaran pers Kementerian UMKM.
Karding mengatakan Barantin siap memberikan informasi mengenai ketentuan karantina yang diterapkan negara tujuan ekspor sekaligus asistensi teknis kepada pelaku usaha.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Barantin sebelumnya menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kesiapan ekspor UMKM, khususnya produk hewan, ikan, dan tanaman.
Kerja sama tersebut mencakup fasilitasi pertukaran data dan informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan ketertelusuran produk, serta dukungan promosi dan akses pasar internasional.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan produk UMKM Indonesia memiliki peluang pasar yang besar di luar negeri.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti kesiapan produk dan pemenuhan berbagai ketentuan ekspor di negara tujuan.
Menurut Maman, salah satu contoh potensi tersebut terlihat dari petani di Sulawesi Tengah yang difasilitasi PT Duco Food Indonesia dan telah mengekspor 918 ton durian.
Sementara itu, PT Sentra Pangan Sejahtera yang menggandeng petani lokal berhasil meraih keuntungan hingga Rp227 miliar dari ekspor durian.
Potensi serupa terlihat dari keikutsertaan 75 pemilik usaha yang difasilitasi Kementerian UMKM dalam China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 di Guangzhou, China.
Selama pameran, UMKM dengan komoditas antara lain kopi, cocopeat, teripang, kerupuk, dan rendang tercatat menjalin kontrak dagang senilai Rp54,6 miliar, membukukan transaksi business to consumer (B2C) sebesar Rp325,5 juta, serta mencatat potensi transaksi business to business (B2B) mencapai Rp76,9 miliar.
"UMKM kita harus memiliki produk berkualitas dan memenuhi standar, serta mencukupi persyaratan karantina negara tujuan ekspor agar siap masuk pasar global dan menjangkau pembeli dari luar negeri," ucap Maman.