"Saya mau berdebat dengan orang yang mengatakan pernah ada pemilu di Indonesia 'full' demokratis. 'No', tidak mungkin. Lihat sendiri data pelanggaran di Bawaslu. Datanya konkret. Tetap ada potensi orang-orang jahat di pemilu, dengan berbagai cara," katanya.
Karena itu, kata dia, transformasi digital dimaksudkan bagaimana memanfaatkan teknologi informasi untuk memaksimalkan pengawasan pemilu.
"Bukankah dengan teknologi informasi kita bisa cepat men-'detect' siapa orang jahat di pemilu, siapa orang yang 'fair'. Karena di Indonesia, masih banyak orang mau menang dengan cara-cara instan," katanya.
Turut hadır, antara lain mantan Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini yang juga pengajar Undip, serta Dekan FISIP Undip Prof Teguh Yuwono.