Selain risiko kebocoran data, penggunaan AI juga menghadirkan tantangan lain, seperti penyalahgunaan teknologi deepfake untuk menyamar sebagai pimpinan perusahaan dalam rapat daring serta keluaran chatbot yang memuat informasi keliru atau referensi yang tidak nyata.

"Tata kelola perlu disiapkan sebelum AI diterapkan. Semakin tinggi risiko penggunaannya, semakin ketat pengendalian yang dibutuhkan, termasuk pemeriksaan oleh manusia agar hasil dan keputusan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Reza.

Dia menambahkan, pengawasan perlu disesuaikan dengan tingkat risiko penggunaan AI, terutama ketika teknologi tersebut berinteraksi langsung dengan pelanggan, mengolah data sensitif, atau memengaruhi keputusan penting perusahaan.

Penerapan AI juga perlu didukung kejelasan tujuan penggunaan, penetapan penanggung jawab, evaluasi berkala, serta peningkatan kompetensi auditor internal.