NADIKABAR.COM — Partai Demokrat memenangkan pemilu sela Amerika Serikat (AS). Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berasal dari Partai Republik meluapkan emosi yang berbeda hanya dalam dua hari atas hasil pemilihan itu.
Dirangkum NadiKabar, Jumat (6/11/2026), berdasarkan hasil pemilu sela 3 November, Partai Demokrat dipastikan menguasai setidaknya 54 kursi Senat AS, sedangkan Partai Republik hanya memegang 44 kursi. Di DPR, jumlah kursi yang dikuasai Partai Demokrat melonjak hingga lebih dari 250 kursi, dari total 435 kursi -- perolehan terbesar selama dua dekade terakhir.
Presiden Trump memberikan komentar atas hasil pemilu sela AS itu. Trump awalnya menerima hasil pemilu sela tersebut dan mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat yang meraih kemenangan telak atas Partai Republik, dengan kendali penuh DPR dan Senat AS jatuh ke tangan partai tersebut.
Presiden AS itu bahkan sempat melontarkan pujian langka dengan menyebut Partai Demokrat telah melakukan "pekerjaan yang baik".
Trump, dalam tanggapannya, mengakui bahwa isu perang Iran mungkin turut berperan dalam kekalahan Partai Republik yang menaungi dirinya.
Namun, seperti dilansir AFP, Rabu (4/11), Presiden AS berusia 80 tahun itu menolak untuk memikul tanggung jawab pribadi atas hasil pemilu sela yang akan mengubah dinamika dua tahun terakhir masa jabatannya tersebut. Trump berupaya melimpahkan kesalahan kepada rekan-rekannya di Partai Republik.
"Begini, saya mengatakan hal ini: Selamat kepada Partai Demokrat. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik," kata Trump dalam wawancara telepon dengan FOX News Democracy 26.
"Mereka telah menantikan momen ini selama 11 tahun, dan akhirnya mereka berhasil. Tetapi saya tidak menganggap ini sebagai pukulan yang ditujukan kepada saya," ucapnya.
Pernyataan bernada pujian semacam ini tergolong sangat tidak biasa bagi Trump, yang sepanjang kampanye pemilu sela lebih sering melabeli Partai Demokrat dengan berbagai sebutan mulai dari komunis hingga Islamis.
Trump menegaskan kembali bahwa, berbeda dengan kekalahannya dalam pilpres 2020, kali ini dirinya menerima hasil pemungutan suara dan menyatakan siap bekerja sama dengan Partai Demokrat yang kini akan menguasai Kongres AS.
"Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal," ujarnya.
Namun, pada saat yang sama, Trump memperingatkan bahwa dirinya siap menggunakan kekuasaan eksekutifnya untuk memveto rancangan undang-undang apa pun dari Partai Demokrat, kapan pun dia merasa perlu melakukannya.
"Mereka bisa saja mengajukan, katakanlah, 50 rancangan undang-undang hebat yang mereka banggakan, lalu saya akan mengembalikannya dengan stempel khusus -- 'veto'," cetus Presiden AS tersebut.
Lebih lanjut, Trump mengakui bahwa konflik melawan Iran yang berlarut-larut turut mempengaruhi hasil pemilu sela ini. Diketahui bahwa berbagai jajak pendapat menjelang pemilu sela menunjukkan bahwa isu perang Iran, dan kenaikan harga minyak yang diakibatkannya, sangat tidak disukai oleh para pemilih AS.
"Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran, tetapi di sisi lain, rakyat juga memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News tersebut.
Terlepas dari itu, nada bicara Trump yang bernuansa mendamaikan ini tidak ditujukan untuk partainya sendiri, Partai Republik. Dalam pernyataan terpisah via akun Truth Social miliknya, Trump mengklaim bahwa kekalahan didapatkan Partai Republik karena dirinya tidak mencalonkan diri dalam pemilu ini.
"Nama saya tidak ada dalam surat suara dan seandainya ada, kita pasti menang TELAK!" ujarnya.
Namun dua hari setelah pemilu sela digelar, seperti dilansir AFP, Jumat (6/11), Trump melontarkan pernyataan keras yang menjadi ciri khasnya, dengan menyebut pemilu tersebut diwarnai kecurangan.
"Pemilu kita sangat curang, Anda tidak akan bisa membayangkannya," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Kamis (5/11) waktu setempat.
Kekesalan Trump tampaknya memuncak setelah laju kemenangan Partai Demokrat semakin tak terbendung, menyusul potensi kekalahan tak terduga Partai Republik di negara bagian Mississippi, salah satu basis paling solid bagi Partai Republik.
Kandidat Partai Demokrat, Scott Colom, yang seorang kulit hitam berada di ambang kemenangan tak terduga untuk merebut kursi Senator Mississippi dari Partai Republik.
Sementara itu, pemilihan Senat di Alaska, yang hasilnya belum diputuskan, menunjukkan kandidat petahana dari Partai Republik tertinggal dalam perolehan suara.
Trump yang merasa kesal dengan kekalahan partainya, bahkan mengaitkan anjloknya bursa saham AS pada Kamis (5/11) dengan kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela.
"Pasar saham anjlok hari ini karena Dumocrat menang besar pada Selasa (3/11) -- Sungguh menyedihkan, kalian hanya bisa menyalahkan diri sendiri!" kata Trump, menggunakan sebutan menghina untuk Partai Demokrat, dalam postingan akun Truth Social miliknya, setelah penutupan bursa saham AS pada hari itu.
Kekesalan Trump juga diluapkan via media sosial Truth Social yang dimilikinya. Pada salah satu postingan dia menyebut jika namanya masuk dalam surat suara dalam pemilu, maka kemenangan telak akan didapatkan.
"SAYA TIDAK MASUK DALAM SURAT SUARA. SEANDAINYA SAYA MASUK, KITA PASTI MENANG TELAK!" tulisnya.
Pemilu sela tahun ini hanya memilih 435 anggota DPR dan 35 Senator, dari total 100 Senator, juga para Gubernur dan pemimpin daerah lainnya di AS.
Dalam omelan onlinenya, Trump turut menyeret Fox News, media terkemuka AS yang dikenal sangat pro-Trump dan Partai Republik. Dia menyalahkan Fox News karena mengundang mantan Wali Kota New York, Bill de Blasio, yang disebutnya sebagai "wali kota terburuk dalam sejarah", dalam salah satu program mereka.
"Fox News memikul tanggung jawab atas kekalahan ini karena terus-menerus menampilkan kubu oposisi dari Dumocrat, dan bahkan lebih buruk lagi," cetusnya.