"Ya pengen jalan itu, kayak semula aja udah, jalan, udah gitu. Dia mempermasalahkan saya bikin dapur di situ. Kalau dia minta roboh, saya robohin dapur, enggak apa-apa. Katanya saya bikin dapur di situ buat saya ngopi-ngopi. Ya Allah Mas, buat jalan aja susah," kata Wiwi.
Wiwi bahkan pernah bernegosiasi agar dirinya dapat membeli sebagian tanah khusus untuk akses jalan.
"Dia kan datang ke sini tuh berdua sama kakaknya. 'Nek, maaf mau bangun' katanya. 'Mau ini.' 'Ya udah sih kalau kamu mau bangun, yang penting saya kasih jalan. Kalau kamu enggak kasih jalan, saya beli deh,' saya bilang gitu. Enggak ada respon," jelasnya.
Selanjutnya, hari ini Sukirdjo dan pihak pemilik tanah melakukan mediasi bersama Kelurahan, RT, RW hingga tokoh masyarakat. Namun menurutnya belum ada titik temu.
Dalam mediasi sempat ada ide untuk membuat akses jalan ke arah belakang rumah Sukirdjo. Namun lokasi itu pun sudah milik tetangga lainnya, dan tidak berkenan untuk dijadikan jalan.
"Permintaannya katanya ada alternatif ke belakang. Terus udah dilihat, kita minta izin, Pak Lurah sendiri yang minta izin ke yang punya, enggak dikasih. Udah, dia katanya udah rembukan sama kakak-kakaknya tujuh orang katanya, enggak dikasih katanya, mau dibangun," kata Wiwi.