Yoyo mengatakan sekitar 4 juta turis datang ke Wuzhen Scenic Area ini setiap tahunnya. Kementrans, kata dia, ingin menerapkan apa yang dilakukan Wuzhen untuk kawasan transmigrasi di Indonesia.
"Nah ini yang ingin coba kami pelajari untuk dicoba diimplementasikan di kawasan transmigrasi, misalnya di Rempang, Papua, atau daerah lainnya," ucapnya.
"Jadi setelah ini, kami akan membawa hasil temuan ini untuk dilaporkan kepada Bapak Menteri Transmigrasi dan dicoba diusulkan bagaimana bisa diimplementasikan di kawasan transmigrasi. Sehingga transmigrasi sekarang bukan lagi hanya soal pertanian, tetapi juga bisa untuk tourism atau pariwisata. Dengan begitu, kebudayaan lokal bukan hanya kita lestarikan, tetapi juga bisa menghidupkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.
Guna menggali potensi di kawasan transmigrasi, Kementrans telah menurunkan tim ke lapangan. Tim ini akan memetakan potensi daerah guna meningkatkan perekonomian warga.
"Kami juga saat ini menurunkan 246 tim dari 10 kampus terbaik di Indonesia dengan total 1.476 orang untuk melakukan penelitian lebih lanjut di 53 kawasan transmigrasi, sekaligus melakukan pendampingan untuk masyarakat. Sehingga di sana diharapkan bisa ditemukan potensi pariwisata apa yang mungkin bisa diolah dan dimajukan, yang bisa juga menghidupkan masyarakat setempat," pungkasnya.