Kondisi tersebut diperparah dengan masih tingginya prevalensi stunting nasional. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting berada di 19,8%, dengan target penurunan menjadi 18,8% pada 2025.

Sementara itu, data BKKBN melalui Pendataan Keluarga 2025 mencatat sekitar 8,1 juta keluarga di Indonesia masuk dalam kategori keluarga berisiko stunting. Menurutnya, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa intervensi berbasis keluarga menjadi kunci untuk memutus rantai masalah gizi anak.

Namun, dia menyoroti pendekatan yang selama ini berjalan kerap terjebak pada kampanye normatif tanpa menyentuh akar persoalan budaya dan kebiasaan sosial.

"Gerakan masyarakat harus mampu menghadirkan edukasi yang menyentuh akar rumput. Jangan hanya menjadi kampanye di atas kertas. Kader di tingkat desa dan kelurahan harus dibekali pemahaman bahwa setiap rupiah yang dialihkan dari rokok ke telur atau sayur adalah investasi langsung bagi masa depan anak," ujarnya.