NADIKABAR.COM — Ketika musim hujan datang, tanaman di halaman rumah seperti mendapat "jatah minum" gratis. Tak sedikit orang yang percaya air hujan lebih baik untuk tanaman dibandingkan air keran. Alasannya beragam, mulai dari dianggap lebih alami hingga dipercaya membawa nutrisi tambahan dari udara.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak berarti semua air hujan otomatis lebih baik untuk setiap tanaman.

Air hujan memang memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya cocok digunakan untuk menyiram tanaman. Namun, kualitas air, kondisi tanah, jenis tanaman, serta cara air hujan dikumpulkan tetap perlu diperhatikan.

Salah satu alasan air hujan cukup baik untuk tanaman adalah kandungan mineral terlarut dan garamnya cenderung lebih rendah dibandingkan sejumlah sumber air tanah atau air keran.

Oregon State University Extension Service menjelaskan bahwa air hujan umumnya bersifat lunak, dengan kandungan garam lebih sedikit dibandingkan air dari jaringan kota atau sumur. Kondisi ini dapat menguntungkan tanaman karena penumpukan garam di tanah dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan akar menyerap air.

Hal ini terutama menarik bagi tanaman yang sensitif terhadap kualitas air. Beberapa tanaman hias, misalnya, dapat lebih sensitif terhadap air keran yang telah melalui proses tertentu dan mengandung bahan tambahan.

University of Minnesota Extension bahkan menyebut air hujan sebagai salah satu pilihan yang baik untuk menyiram tanaman hias.

Benarkah air hujan membawa nitrogen?

Ini salah satu mitos yang sering muncul.

Air hujan memang dapat membawa sejumlah senyawa nitrogen dari atmosfer ke tanah. Namun, bukan berarti setiap kali hujan turun, tanaman langsung mendapat "pupuk nitrogen" dalam jumlah besar.

Sebagian besar nitrogen di atmosfer berada dalam bentuk gas nitrogen atau N2, yang tidak dapat langsung digunakan tanaman. Nitrogen perlu mengalami proses tertentu agar berubah menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman.