Jadi, tanaman tidak tiba-tiba menjadi subur hanya karena terkena hujan.
Kebutuhan nitrogen tanaman tetap bergantung pada kondisi tanah, jenis tanaman, fase pertumbuhan, dan ketersediaan unsur hara lainnya. Bahkan, hujan yang terlalu deras justru dapat menyebabkan nitrogen yang sudah tersedia di tanah ikut terbawa ke lapisan tanah yang lebih dalam atau keluar dari zona akar.
Ada satu hal penting yang sering terlupakan: tanaman tidak hanya membutuhkan air.
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk cahaya, suhu, jenis tanah, drainase, unsur hara, serta kebutuhan air masing-masing tanaman.
Air hujan dalam jumlah yang tepat tentu membantu memenuhi kebutuhan air tanaman. Tetapi kalau hujan turun terlalu deras atau berlangsung terlalu lama, tanah justru bisa terlalu jenuh air.
Kondisi tanah yang terlalu basah dapat mengurangi ruang udara di dalam pori-pori tanah. Padahal akar juga membutuhkan oksigen. Karena itu, pengelolaan air perlu disesuaikan dengan jenis tanah dan kebutuhan tanaman.
Dengan kata lain, tanaman juga bisa "kebanyakan minum".
Selain membiarkan tanaman terkena hujan langsung, air hujan juga dapat ditampung menggunakan tong atau wadah khusus untuk digunakan kembali.
Cara ini memiliki keuntungan lain karena bisa mengurangi penggunaan air dari jaringan rumah tangga untuk kebutuhan berkebun.
Namun, air hujan yang ditampung tidak selalu sama dengan air hujan yang langsung jatuh dari langit.
Jika air dikumpulkan dari atap, misalnya, air tersebut bisa membawa kotoran, mikroorganisme, hingga kontaminan dari permukaan atap. Karena itu, University of Minnesota Extension menyarankan air dari rain barrel lebih aman digunakan untuk tanaman hias dan tanaman yang tidak dimakan langsung.