Penggunaan air dalam ekosistem AI tidak hanya berasal dari pendinginan server ketika chatbot menerima pertanyaan.

Air juga dapat digunakan secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan konsumsi air pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 373 miliar liter berkaitan dengan penggunaan air secara tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter merupakan penggunaan langsung di pusat data.

Angka tersebut merupakan estimasi untuk seluruh pusat data, bukan konsumsi khusus chatbot tertentu. Karena itu, angka konsumsi air tidak dapat begitu saja diterapkan untuk setiap pertanyaan AI.

3. Konsumsi air per pertanyaan bisa berbeda

Salah satu alasan munculnya berbagai angka mengenai penggunaan air AI adalah perbedaan metode penghitungan. Konsumsi air dapat dihitung hanya dari proses komputasi atau sekaligus memperhitungkan sistem pendingin dan sumber listrik yang digunakan.

Google, misalnya, pada 2025 mengukur konsumsi sumber daya untuk layanan Gemini. Perusahaan tersebut memperkirakan satu prompt teks median Gemini Apps menggunakan sekitar 0,26 mililiter air berdasarkan data Mei 2025 dan metodologi yang mencakup penggunaan energi sistem serta konsumsi air pusat data. Google menegaskan bahwa angka tersebut merupakan pengukuran pada titik waktu tertentu dan bukan angka yang berlaku untuk seluruh layanan AI.

Artinya, tidak tepat menyebut setiap pertanyaan chatbot pasti menggunakan jumlah air yang sama.

Meski konsumsi per permintaan dapat menjadi semakin efisien, jumlah penggunaan AI secara global terus bertambah. International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global meningkat 17 persen pada 2025. Sementara itu, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI meningkat sekitar 50 persen pada tahun yang sama.