IEA juga memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara keseluruhan dapat meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa efisien satu pertanyaan diproses, tetapi juga oleh jumlah pengguna, jenis pekerjaan yang dilakukan AI dan pertumbuhan infrastruktur pusat data.

5. Teknologi pendingin terus dikembangkan

Perusahaan teknologi juga mengembangkan teknologi untuk mengurangi kebutuhan air pusat data. Microsoft, misalnya, melaporkan rata-rata water usage effectiveness (WUE) pusat data miliknya turun dari 2,3 liter per kilowatt-jam menjadi 0,27 liter per kilowatt-jam pada 2025. Perusahaan tersebut menyebut efisiensi tersebut didukung oleh teknologi pendinginan dan berbagai peningkatan operasional.

Google juga melaporkan berbagai upaya pengurangan penggunaan air. Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek pengelolaan airnya pada 2025 telah melakukan pengisian kembali sekitar 7,7 miliar galon air, setara sekitar 78 persen dari konsumsi air tawarnya pada tahun tersebut.

Chatbot AI memang memiliki jejak penggunaan air karena layanan tersebut bergantung pada pusat data yang membutuhkan pendinginan dan listrik. Namun, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan untuk setiap chatbot atau setiap pertanyaan.

Jumlahnya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jenis model AI, kompleksitas tugas, efisiensi perangkat keras, sistem pendingin, lokasi pusat data dan sumber listrik yang digunakan.

Karena itu, pembahasan mengenai dampak lingkungan AI perlu melihat data dan metode pengukurannya secara menyeluruh. Di satu sisi, teknologi AI terus menjadi lebih efisien. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah pengguna dan pembangunan pusat data dalam skala besar membuat kebutuhan energi dan pengelolaan air tetap menjadi perhatian.