Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perbedaan genetik dalam cara tubuh memetabolisme kafein tidak mengubah hasil penelitian secara keseluruhan. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, dengan efek perlindungan yang sedikit lebih kuat pada pria.
Hasil penelitian juga konsisten pada berbagai jenis kopi, termasuk kopi tanpa kafein atau decaf. Walker mengatakan hal ini mengindikasikan bahwa manfaat kopi mungkin berasal dari komponen lain selain kafein, seperti antioksidan atau senyawa bioaktif lainnya.
Walker mengatakan temuan ini memperkuat apa yang sering ia sampaikan, bahwa kopi bisa menjadi bagian dari rutinitas sehat dan dapat memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Namun, lebih banyak bukan berarti lebih baik.
Terlepas dari temuan tersebut, Walker mengatakan bahwa toleransi individu terhadap kafein tetap penting dalam praktiknya.
"Sebagian orang merasa nyaman dengan dua cangkir, sementara yang lain mungkin merasakan efek samping dengan jumlah tersebut atau bahkan kurang," katanya.
Menurut profesor dan direktur Program Magister Sains dalam Nutrisi Klinis & Dietetik di Johnson & Wales University, Luciana Soares, MS, RDN, kopi bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan mental. Namun, jangan berharap bahwa minuman ini bisa menyembuhkannya.
"Penting untuk dipahami bahwa konsumsi kopi tidak boleh digunakan untuk mengobati depresi atau kecemasan," kata Soares.