NADIKABAR.COM — Nasi merupakan makanan pokok yang dikonsumsi banyak masyarakat Indonesia. Namun, cara penyajiannya kerap menimbulkan pertanyaan, terutama mengenai perbedaan manfaat nasi yang baru matang dan nasi yang sudah didinginkan.

Sebagian orang menganggap nasi dingin lebih sehat karena memiliki kandungan pati resisten yang lebih tinggi. Sementara itu, nasi hangat sering dipilih karena teksturnya lebih lembut dan baru selesai dimasak. Perbedaan suhu ternyata dapat memengaruhi struktur pati dalam nasi, termasuk cara tubuh mencerna karbohidrat tersebut.

Lantas, apakah nasi dingin benar-benar lebih sehat daripada nasi hangat? Untuk memahaminya, penting mengetahui perubahan yang terjadi pada nasi setelah dimasak dan didinginkan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kadar gula darah.

Mengapa nasi dingin disebut lebih sehat?

Perbedaan nasi hangat dan nasi dingin berkaitan dengan perubahan struktur pati setelah proses memasak dan pendinginan. Ketika nasi baru matang, sebagian besar patinya berada dalam bentuk yang relatif mudah dicerna tubuh.

Namun, ketika nasi didinginkan, sebagian pati mengalami proses yang disebut retrogradasi. Dalam proses ini, struktur pati yang sebelumnya berubah saat dimasak akan tersusun kembali sehingga sebagian menjadi lebih sulit dicerna.

Hasilnya adalah peningkatan kandungan pati resisten atau resistant starch. Jenis pati ini tidak sepenuhnya dicerna di usus halus dan dapat mencapai usus besar untuk difermentasi oleh bakteri baik.

Proses tersebut membuat nasi dingin berpotensi memberikan respons kenaikan gula darah yang lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang.

Perbandingan kandungan pati resisten pada nasi

Penelitian yang diterbitkan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition pada 2015 menguji pengaruh pendinginan terhadap kandungan pati resisten nasi putih.

Penelitian tersebut membandingkan tiga kondisi nasi, yakni nasi yang baru matang, nasi yang didinginkan selama 10 jam pada suhu ruang, serta nasi yang didinginkan selama 24 jam pada suhu 4 derajat Celsius kemudian dipanaskan kembali.

Hasil pengujian menunjukkan kandungan pati resisten masing-masing sebesar 0,64 gram per 100 gram pada nasi baru matang, 1,30 gram pada nasi yang didinginkan selama 10 jam, dan 1,65 gram pada nasi yang didinginkan selama 24 jam di lemari pendingin sebelum dipanaskan kembali.

Penelitian tersebut juga melibatkan 15 orang dewasa sehat. Hasilnya menunjukkan nasi yang didinginkan selama 24 jam kemudian dipanaskan kembali menghasilkan respons gula darah yang lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang.

Meski demikian, jumlah peserta penelitian tersebut relatif kecil sehingga hasilnya belum cukup untuk menyimpulkan bahwa nasi dingin selalu lebih baik bagi semua orang.