Menguap menular sering disebut sebagai tanda bahwa seseorang memiliki empati tinggi. Teori tersebut memang pernah didukung oleh sejumlah penelitian, tetapi bukti ilmiahnya belum konsisten.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan di Neuroscience & Biobehavioral Reviews menyimpulkan bahwa hubungan antara menguap menular dan empati masih belum meyakinkan. Faktor seperti perhatian visual dan kemampuan seseorang mengendalikan respons juga dapat memengaruhi hasil penelitian.
Jadi, kalau seseorang tidak ikut menguap ketika melihat orang lain menguap, bukan berarti orang tersebut kurang berempati.
Semakin dekat hubungannya, semakin mudah tertular?
Ini juga menjadi salah satu bagian menarik dari penelitian tentang menguap menular.
Sejumlah penelitian pada manusia menemukan adanya hubungan antara kedekatan sosial dan respons menguap. Dalam salah satu penelitian, respons menguap lebih sering muncul ketika seseorang melihat anggota keluarga atau teman dibandingkan ketika melihat orang yang tidak dikenal.
Penelitian lain juga menemukan adanya pengaruh hubungan sosial terhadap frekuensi menguap menular. Namun, hasil penelitian mengenai faktor-faktor sosial ini tidak selalu seragam.
Dengan kata lain, bukan berarti melihat sahabat menguap pasti membuat kita ikut menguap. Ada banyak faktor lain yang bisa ikut menentukan.
Bahkan anjing juga bisa ikut menguap