Fenomena menguap menular ternyata tidak hanya ditemukan pada manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut juga dapat terjadi pada beberapa hewan, termasuk anjing dan sejumlah jenis primata.

Pada anjing, misalnya, penelitian menemukan bahwa mereka lebih sering menguap ketika melihat video atau kondisi yang memperlihatkan anjing lain menguap.

Namun, lagi-lagi, para peneliti belum bisa begitu saja menyimpulkan bahwa perilaku tersebut merupakan tanda empati.

Penelitian terhadap anjing justru menemukan bahwa bukti yang ada tidak mendukung kesimpulan bahwa menguap menular pada anjing secara langsung disebabkan oleh empati. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar "kita menguap karena merasa apa yang dirasakan orang lain".

Kenapa membaca soal menguap saja bisa bikin ingin menguap?

Nah, bagian ini mungkin sedang Anda alami sekarang. Ketika seseorang membaca, melihat, atau membayangkan tindakan menguap, perhatian terhadap perilaku tersebut meningkat. Bagi sebagian orang, perhatian itu bisa diikuti munculnya respons menguap.

Namun, tidak semua orang akan mengalami hal yang sama. Respons terhadap menguap sangat bervariasi. Ada orang yang mudah ikut menguap, sementara orang lain bisa melihat beberapa orang menguap tanpa merasakan apa-apa.

Penelitian terbaru juga masih membahas berbagai kemungkinan mekanisme di balik fenomena tersebut, mulai dari perhatian sosial, pemrosesan emosi, hingga mekanisme neurologis. Sebuah tinjauan sistematis yang terbit pada 2026 menyebut mekanisme contagious yawning masih menjadi bahan penelitian dan tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor seperti empati.

Jadi, kalau Anda tiba-tiba menguap setelah melihat teman, pasangan, anggota keluarga, atau bahkan setelah membaca artikel ini, hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.