Penelitian yang sama menemukan kejadian prediabetes sebesar 29,7 per 1.000 orang per tahun pada kelompok PCOS dibandingkan 25,9 per 1.000 orang per tahun pada kelompok kontrol. Pada perempuan berusia 40 tahun atau lebih muda, rasio risiko yang telah disesuaikan untuk prediabetes mencapai 1,7.

Angka tersebut berasal dari penelitian tertentu dan tidak dapat digunakan untuk menentukan risiko setiap individu. Faktor usia, kondisi metabolik, berat badan, riwayat keluarga dan faktor lainnya tetap perlu dipertimbangkan.

Bagaimana cara mengetahui risiko prediabetes?

Pedoman PCOS internasional merekomendasikan pemeriksaan status gula darah pada saat diagnosis PCOS pada orang dewasa maupun remaja. Pemeriksaan kemudian dapat diulang setiap satu hingga tiga tahun, tergantung faktor risiko masing-masing.

Pemeriksaan toleransi glukosa oral atau oral glucose tolerance test (OGTT) dengan pengukuran gula darah dua jam setelah konsumsi 75 gram glukosa dinilai sebagai metode yang paling akurat untuk menilai gangguan gula darah pada perempuan dengan PCOS.

Penelitian yang menjadi dasar pedoman tersebut menunjukkan OGTT lebih baik dalam mendeteksi gangguan gula darah dibandingkan pemeriksaan gula darah puasa atau HbA1c saja pada perempuan dengan PCOS.

Standar penanganan diabetes 2026 dari American Diabetes Association juga memasukkan PCOS sebagai salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan ketika menentukan kebutuhan skrining prediabetes dan diabetes. Pemeriksaan yang dapat digunakan meliputi gula darah puasa, OGTT dua jam, dan HbA1c.

Dengan demikian, PCOS memang berkaitan dengan peningkatan risiko prediabetes dan diabetes tipe 2. Namun, PCOS tidak berarti seseorang pasti mengalami prediabetes. Pemeriksaan gula darah secara berkala, pola hidup sehat, aktivitas fisik yang cukup dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu memantau serta mengelola risiko tersebut.