NADIKABAR.COM — Bentley dikenal sebagai merek mobil mewah asal Inggris yang menggabungkan performa tinggi dengan pengerjaan tradisional, namun statusnya masih diperdebatkan, terutama sejak perubahan kepemilikan hampir 30 tahun lalu.
Didirikan pada 1919, Bentley membangun reputasi melalui mobil mewah berperforma tinggi dan kemenangan di ajang balap Le Mans pada 1920-an. Namun, Depresi Besar setelah kejatuhan Wall Street pada 1929 membuat Bentley terpuruk hingga diambil alih oleh pesaingnya, Rolls-Royce, lapor laman Carscooops, Sabtu (17/10) waktu setempat.
Selama enam dekade berikutnya, mobil Bentley menggunakan sasis dan mesin Rolls-Royce. Meski demikian, Bentley tetap mengembangkan identitasnya sendiri, salah satunya melalui R-Type Continental 1952 yang menjadi inspirasi Continental GT saat ini.
Pada 1998, Vickers, pemilik Rolls-Royce dan Bentley saat itu, memutuskan menjual kedua merek tersebut. BMW, yang telah memasok mesin V12, menawarkan 340 juta poundsterling (Rp8,18 triliun) untuk mengambil alih keduanya. Namun, produsen mobil Jerman lainnya, Volkswagen, juga memiliki rencana untuk kedua merek mewah asal Inggris tersebut.
Dibuat di Jerman, tetapi hanya dalam jumlah terbatas
Volkswagen mengajukan penawaran 430 juta poundsterling (Rp10,3 triliun) dan mengalahkan BMW untuk mengambil alih pabrik di Crewe, Inggris, beserta mobil-mobil kedua merek, maskot Spirit of Ecstasy, dan gril ikonis Rolls-Royce.
Namun, BMW telah lebih dulu membuat kesepakatan dengan Rolls-Royce PLC, perusahaan mesin pesawat, untuk memperoleh lisensi penggunaan nama Rolls-Royce senilai 40 juta poundsterling (Rp962,4 miliar).
Kedua perusahaan Jerman itu akhirnya sepakat membagi aset. BMW mengambil alih Rolls-Royce dan membangun pabrik baru di Goodwood, sedangkan Volkswagen mengelola Bentley dari pabrik lama di Crewe.
Bentley tetap diproduksi di fasilitas Pyms Lane, Inggris, alih-alih dipindahkan ke Jerman. Hingga kini, seluruh model Bentley, mulai dari SUV Bentayga hingga Batur Convertible, diproduksi di pabrik tersebut.
Namun, ada pengecualian. Tingginya permintaan terhadap Flying Spur setelah diluncurkan pada 2005 dan kembali meningkat pada 2013 membuat Bentley harus memproduksi sejumlah kecil unit di pabrik Volkswagen di Dresden, Jerman, untuk memenuhi pesanan.
Menggunakan komponen Volkswagen, tetapi tetap berciri khas Inggris
Bentley modern masih menggunakan banyak teknologi dari Jerman. Bentayga berbagi platform dengan Porsche Cayenne, sedangkan Continental GT dan Flying Spur menggunakan arsitektur yang sama dengan Porsche Panamera.
Mesin V8 6,75 liter yang menjadi ciri khas Bentley sejak era Rolls-Royce dihentikan produksinya pada 2020. Kini, Bentley menggunakan mesin V6 3,0 liter dan V8 4,0 liter dari Volkswagen yang diproduksi di daratan Eropa. Struktur bodinya juga diimpor dari Jerman, dengan sebagian sebelumnya diproduksi di Slovakia.
Meski demikian, ciri khas Bentley tetap terlihat pada pengerjaan cat, trim, dan personalisasi Mulliner. Melalui investasi 350 juta poundsterling (Rp8,4 triliun), pabrik Crewe kini memiliki fasilitas pengecatan modern, pusat teknis rekayasa baru, serta lini produksi untuk Torcal, mobil listrik pertama Bentley.
Sejak 2021, Bentley berada di bawah kendali Audi sebagai bagian dari divisi Progressive Volkswagen. Meski demikian, Bentley tetap mempertahankan basis produksi dan akar Inggrisnya.