NADIKABAR.COM — Bentrokan tim redaksi orang tua (ortu) siswi Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan massa Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Istiqamah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), dipicu sengketa lahan keluarga antarsaudara. Konflik lahan ini membuat ortu siswi protes karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar sekolah.

"Akar masalahnya ini perselisihan internal keluarga. Konflik sengketa lahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa titik temu," kata Tim Markom SPIDI Maros, Minar kepada NadiKabar, Kamis (10/9/2026).

Minar belum merinci sejak kapan sengketa lahan itu dimulai. Kendati begitu, perselisihan menahun ini melibatkan sesama saudara selaku pengelola SPIDI dan pengelola pesantren.

SPIDI di bawah naungan ustaz Muzayyin Arief dan Direktur Nurlisa Arief. Pihak SPIDI mengklaim mengantongi izin operasional serta berbadan hukum resmi.

Sementara pihak Pesantren Darul Istiqamah diampu oleh saudara kandung Muzayyin, yaitu Ustaz Mufassir, Muallim, dan Muzakkir. Pihak ponpes juga berdalih memiliki hak atas tanah yang ditempati SPIDI.

"Sebenarnya ini konflik internal keluarga. Pihak pesantren mengklaim lahan ini dengan dua alasan, kadang mengatasnamakan warisan, kadang menyebut sebagai tanah wakaf. Namun kedua klaim tersebut tidak memiliki bukti," ujarnya

Menurut Minar, orang tua dari kedua pengelola SPIDI maupun Ponpes Darul Istiqamah Maros sedianya sudah pernah melakukan mediasi. Kendati begitu, mediasi gagal lantaran pihak ponpes tidak hadir.