"SPIDI dan Pesantren Darul Istiqamah itu dua lembaga berbeda. Mediasi kekeluargaan sebenarnya sudah pernah diupayakan, tetapi pihak pesantren tidak hadir," beber Minar.
Seiring berjalannya waktu, pihak ponpes disebut kerap berupaya mengambil alih lahan yang ditempati SPIDI. Konflik sengketa lahan lalu kembali memasuki puncaknya saat pihak ponpes dianggap menerobos masuk ke kawasan SPIDI sejak Jumat (4/9).
"Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah, melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas, bahkan ada yang memasak sampai bermain bulu tangkis di sana," ungkapnya.
Upaya menduduki lahan yang berlangsung selama beberapa hari pun memanas setelah ada pemasangan garis polisi (police line) di depan area portal sekolah. Hal ini diduga memicu kemarahan pihak Pesantren Darul Istiqamah.
"Awal masalahnya itu dari adanya pemasangan police line di depan portal. Pihak Darul Istiqamah ini marah karena dipasangkan police line di situ," tuturnya.
Kondisi itu membuat kawasan SPIDI didatangi sekelompok orang yang diduga dari massa ponpes pada Selasa (8/9) pagi. Kedatangan massa memicu protes dari orang tua siswa SPIDI karena dianggap mengganggu proses pembelajaran.