Langkah-langkah itu ditujukan untuk mengatasi inflasi tinggi yang menjadi masalah besar di Argentina. Hampir tiga tahun berselang, tingkat inflasi telah turun menjadi sekitar 2% per bulan dari awalnya 211% saat Milei mulai menjabat. Milei menyatakan rencananya berjalan dengan baik.

"Argentina tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa. Kami telah mencatat pertumbuhan berkelanjutan selama 27 bulan berturut-turut, dan saat ini negara ini berkembang dengan laju empat kali lipat dari tingkat historisnya. Pertumbuhan ini dirasakan di hampir semua sektor ekonomi," ujar Milei dalam kunjungan baru-baru ini ke Washington.

Namun, tidak semua pihak sependapat. Rencana Milei juga memberikan dampak mendalam terhadap pendidikan publik, program kesejahteraan bagi penyandang disabilitas, pensiunan, dan kelompok lain yang bergantung pada dukungan negara. Pihak oposisi telah berupaya menghalangi banyak reformasi yang digagas Milei.

Tahun lalu, Kongres Argentina membatalkan veto presiden dan mengesahkan dua undang-undang, yakni satu undang-undang untuk meningkatkan pendanaan bagi universitas negeri dan satu lagi menetapkan status darurat bagi penyandang disabilitas. Akan tetapi, pemerintahan Milei menolak untuk melaksanakannya dengan alasan bahwa Kongres tidak menjelaskan bagaimana undang-undang tersebut akan didanai.

Kini, seorang hakim federal telah menjatuhkan denda kepada pemerintah sebesar 100.000 peso (sekitar Rp 1 juta) per hari karena dianggap gagal melaksanakan ketentuan dalam undang-undang pendanaan tersebut. Undang-undang itu mewajibkan pemerintahan Milei untuk memulihkan gaji di universitas serta beasiswa mahasiswa yang tergerus inflasi, memperbarui anggaran secara berkala, dan menyediakan dana untuk penelitian, rumah sakit, serta infrastruktur.

Putusan itu kemudian memicu ribuan orang turun ke jalan pada hari Kamis waktu setempat untuk menuntut agar pemerintah melaksanakan ketentuan tersebut. Di berbagai titik di Buenos Aires, barisan panjang massa memblokir pusat kota sembari menyerukan pemogokan umum.

Meski awalnya direncanakan sebagai aksi damai, unjuk rasa tersebut kemudian berubah menjadi kekerasan. Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet, sementara para pengunjuk rasa melemparkan batu.