NADIKABAR.COM — Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sejumlah daerah di Banten, Lampung, hingga Jakarta terpapar abu vulkanik. Kondisi ini turut menyebabkan penutupan sementara sejumlah bandara sampai Senin (7/9/2026).
Usai erupsi sejak Jumat (4/9), Gunung Anak Krakatau masih Siaga Level III. Menurut Profesor Riset dan pakar klimatologi di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, kondisi ini tergolong kode merah (bahaya) untuk penerbangan.
"Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat," kata Erma, dikutip dari akun X pribadinya @EYulihastin, Senin (79/2026)
Laporan terbaru menetapkan bahwa penutupan penerbangan di empat bandara, yakni Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Radin Inten II, dan Husein Sastranegara masih berlanjut sampai pukul 18.00 WIB. Lantas sampai kapan abu vulkanik bertahan di atmosfer?
The UCAR Center for Science Education menjelaskan bahwa abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung berapi bisa terdiri dari partikel yang besar dan yang kecil. Partikel abu yang lebih besar memiliki sedikit efek karena jatuh dari udara dengan cepat.
Namun, partikel abu yang lebih kecil dan sangat ringan bisa bertahan di stratosfer (lapisan kedua atmosfer) selama beberapa jam atau beberapa hari setelah letusan. Jika letusan tergolong sangat besar, abu bahkan bisa bertahan berbulan-bulan di atmosfer hingga dapat menghalangi sinar matahari.