Menurut United States Geological Survey (USGS), ketika sebuah wilayah sudah terpapar hujan abu vulkanik, hal itu dapat menghambat perjalanan selama berhari-hari. Dalam sejarah dunia, abu vulkanik bahkan bisa bertahan sangat lama untuk memengaruhi iklim.
Contohnya adalah letusan Gunung Krakatau pada 1883 dan Gunung Tambora pada 1815 di Indonesia. Menurut situs resmi Massachusetts Institute of Technology (MIT) Climate Portal, letusan Tambora memengaruhi iklim jangka pendek hingga membuat 1816 dikenal sebagai 'tahun tanpa musim panas'.
Abu vulkanik dan material lain yang terlepas ke atmosfer turut mendinginkan cuaca. Suhu di belahan Eropa turun sampai 0,556 °C.
Sementara studi yang meneliti dampak letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada 2014 menemukan bahwa dampak abu bertahan selama berbulan-bulan. Studi yang dipimpin oleh Universitas Colorado Boulder dilakukan dengan pengamatan dunia nyata dan simulasi komputer canggih.
"Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama," kata Yunqian Zhu, penulis utama studi baru ini dan ilmuwan peneliti di Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa (LASP) di CU Boulder.
"Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan. Itu tampak seperti ab," imbuh Zhu.