Seru, seru, seru. Seru sih. Jadi, memang kami saling mengisi. Dia bukan orang Asia Tenggara, jadi aku memberikan banyak konteks tentang sejarah, kebiasaan, kultur, dan banyak hal lainnya.
Kami sempat melakukan research trip juga ke Singapura. Selama beberapa hari itu, intens banget. Setiap bertemu, kami langsung meeting, ngobrol, diskusi sampai berjam-jam. Sampai akhirnya pada akhir Juli atau Agustus, kami sudah memutuskan bahwa kami akan menggunakan program yang sekarang ada di katalog.
Tema "Side to Side" dipilih berdasarkan ide proposal dari Raslene dan Ueda Masayuki. Raslene memilih film "Four Seasons in Java" (Empat Musim Pertiwi), "Turang", dan "Behind the Flickering Light: The Archive."
T: Ada tiga film yang dipilih. Apa alasan pemilihannya?
J: Pertama, sebenarnya karena kami melihatnya sebagai Side by Side. Bukan hanya secara geografis Asia Tenggara bertetangga, tetapi juga ada pembicaraan tentang sejarah, waktu, dan poin-poin lain yang sebenarnya bisa direkam oleh sinema.
Karena itu, kami mengambil beberapa subtopik. Ada yang tentang arsip dalam bentuk dokumenter, yaitu film dokumenter "Behind the Flickering Light: The Archive." Kemudian ada "Turang", film klasik yang sempat hilang, ada cerita-cerita menarik dari setiap filmnya.
Kami juga melihat ide co-producing dalam jejaring Asia Tenggara sebagai sesuatu yang sangat menarik. Itu menjadi salah satu poin yang ingin kami soroti. Misalnya, film "Pertiwi", yang co-producer-nya berasal dari banyak negara.
Di saat yang sama, kami juga melihat cara kerjanya. Walaupun Mbak Dini (Kamila Andini) menulis dan melakukan riset sebagai sutradara, dia juga melibatkan Sekolah Pemikiran Perempuan untuk riset dan finalisasi naskahnya.
Menurutku, ide-ide dan semangat seperti itulah yang kami kumpulkan dalam tema Side by Side.