NADIKABAR.COM β€” Berjalan atau beraktivitas di bawah sinar matahari tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, terutama bagi orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, berkulit gelap, lanjut usia, atau memiliki kondisi tertentu.

Konsultan dermatologi dari National Skin Centre Dr. Crystal Phuan dalam siaran Channel News Asia pada Jumat (2/10) waktu setempat, mengatakan paparan sinar matahari tanpa perlindungan sebaiknya dibatasi karena meningkatkan risiko kanker kulit.

β€œSangat bijaksana untuk membatasi waktu di bawah sinar matahari tanpa perlindungan matahari karena meningkatnya risiko kanker kulit,” kata Phuan.

Paparan sinar matahari memang telah diusulkan dapat mempertahankan atau meningkatkan kadar vitamin D, tetapi sengaja memaparkan kulit tanpa perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV) belum tentu efektif bagi orang yang kekurangan vitamin D, seperti lansia dan orang berkulit gelap.

Menurut dia, paparan wajah dan punggung tangan yang terlindungi terhadap dosis eritema minimum (MED) radiasi UVB 0,25 persen sebanyak tiga kali seminggu dapat menghasilkan vitamin D yang cukup. MED merupakan ambang jumlah radiasi UV yang dapat ditanggung kulit sebelum memerah.

Dalam penerapannya, pendiri dan direktur medis Aquila Medical Center Dr. Stephen Chu menyarankan masyarakat tidak perlu membuat β€œresep” paparan sinar UV, tetapi cukup mengurangi kebiasaan menghindari matahari. Ia menyarankan keluar pada pertengahan pagi atau sore hari dalam waktu singkat dan teratur dengan sebagian besar kulit tetap terbuka.

Namun, paparan tersebut membutuhkan sinar matahari langsung karena berada di tempat teduh sangat mengurangi paparan UVB. Penggunaan tabir surya tetap diperlukan dan perlu ditambah jika banyak berkeringat.

Bagi orang berkulit cerah atau memiliki riwayat kanker kulit pribadi maupun keluarga, Dr. Chu menyarankan pemenuhan vitamin D melalui suplemen.