Obesitas juga diusulkan sebagai faktor risiko kekurangan vitamin D karena vitamin yang larut dalam lemak tersebut mudah disimpan dalam jaringan tubuh sehingga mencegah tubuh menggunakannya. Dalam salah satu studi, subjek dengan obesitas memiliki kadar vitamin D 57 persen lebih rendah dibandingkan subjek yang lebih kurus.
Vitamin D diperlukan untuk mendukung metabolisme kalsium dan fosfat yang dibutuhkan dalam perkembangan kerangka janin. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian selama kehamilan karena transfer kalsium dari ibu ke janin meningkat secara substansial seiring perkembangan kehamilan.
Dalam studi kecil pada 2024 terhadap 93 perempuan pada trimester pertama kehamilan, hanya 2,2 persen yang memiliki kadar vitamin D yang cukup. Di antara peserta perempuan hamil Melayu dan India, seluruhnya mengalami kekurangan vitamin D.
Selain dari paparan sinar matahari, kebutuhan vitamin D juga dapat didukung melalui makanan. Dr. Phuan menyebut makanan tinggi vitamin D antara lain ikan berlemak seperti salmon dan trout, serta makanan yang diperkaya vitamin D.
Makanan yang diperkaya vitamin D tersebut mencakup susu, yogurt, beberapa susu nabati seperti susu kedelai, almond dan oat, serta beberapa jenis sereal. Beberapa jamur juga diolah dengan sinar ultraviolet sehingga memiliki lebih banyak vitamin D, yang dapat diketahui melalui label βVitamin Dβ.
Bagi orang yang menghindari paparan sinar matahari, Dr. Phuan menyebut makanan yang diperkaya vitamin D dapat menjadi pilihan, termasuk dua gelas susu atau jus jeruk yang diperkaya setiap hari, dengan ukuran sekitar 240 mililiter per gelas.
Dr. Sueziani mengatakan sebagian besar orang dewasa sehat membutuhkan sekitar 600 IU vitamin D per hari, sedangkan orang berusia di atas 70 tahun mungkin membutuhkan sekitar 800 IU setiap hari. Orang yang mengalami kekurangan vitamin D secara jelas dapat membutuhkan dosis lebih tinggi untuk jangka waktu tertentu dengan panduan dokter.
Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti