Dr. Chu mengatakan tabir surya memang berperan terhadap rendahnya paparan UVB, tetapi persoalan yang lebih besar berkaitan dengan perencanaan kota dan pola kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan masyarakat dapat berpindah dari apartemen ke tempat parkir, kantor, pusat perbelanjaan, lalu kembali ke rumah tanpa benar-benar terpapar sinar matahari. Jalan setapak yang terlindungi, jalan bawah tanah, pendingin udara, dan jam kerja kantor juga membuat masyarakat berada di dalam ruangan pada waktu ketika UVB bermanfaat.

Dalam studi tahun 2019 terhadap 213 pekerja di dalam ruangan, kekurangan vitamin D ditemukan pada hampir 33 persen peserta. Pekerja kantor, pekerja bengkel, dan pekerja shift malam juga ditemukan berisiko lebih tinggi mengalami kondisi tersebut meskipun asupan makanan kaya vitamin D serupa pada berbagai jenis pekerjaan.

Konsultan endokrinologi senior dari Ascensus Health Dr. Sueziani Binte Zainudin mengatakan duduk di dekat jendela yang terkena sinar matahari juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D karena kaca biasa menghalangi sebagian besar UVB yang diperlukan untuk membuat vitamin tersebut.

Berada di tempat teduh juga mengurangi paparan UV meskipun sebagian UV yang tersebar masih dapat mencapai kulit.

Warna kulit turut berperan dalam pembentukan vitamin D. Kulit dengan pigmentasi atau melanin lebih banyak menyerap radiasi UVB sebelum radiasi tersebut dapat memicu reaksi kimia yang dibutuhkan untuk sintesis vitamin D.

Hal itu ditunjukkan dalam studi tahun 2013 terhadap 197 perempuan di Singapura yang menemukan kekurangan vitamin D lebih umum terjadi pada perempuan Melayu sebesar 89 persen dan perempuan India sebesar 82 persen dibandingkan perempuan Tionghoa sebesar 56 persen.

Studi lokal juga melaporkan sekitar 54 persen perempuan mengalami kekurangan vitamin D dibandingkan sekitar 30 persen laki-laki. Perempuan cenderung lebih banyak menutupi tubuh atau menghindari paparan sinar matahari karena praktik berpakaian dan preferensi sosial.